Gak ada yang pernah benar-benar menjelaskan kalau dunia kerja akan semenyebalkan ini. Waktu sekolah dulu, kita tumbuh dengan bayangan bahwa setelah lulus semuanya akan terasa lebih jelas: dapat pekerjaan, punya penghasilan sendiri, lalu pelan-pelan hidup membaik. Orang dewasa terlihat begitu yakin menjalani hidupnya sampai kita mengira mereka memang tahu apa yang sedang mereka lakukan. Padahal setelah sampai di fase ini, aku mulai sadar kalau sebagian besar orang sebenarnya hanya sedang bertahan sambil berpura-pura baik-baik saja.
Dulu hidup terasa lebih sederhana. Bangun pagi tidak diawali rasa cemas yang menggantung di kepala. Rutinitas seperti mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah terasa ringan karena satu-satunya hal yang perlu dipikirkan hanyalah tugas, ujian, atau nilai. Bahkan tekanan saat itu masih terasa manusiawi. Belajar pun menyenangkan bagiku. Ada kepuasan ketika memahami sesuatu, ada rasa bangga ketika berhasil mengerjakan soal yang sulit. Sekolah, setidaknya dulu, terasa seperti tempat di mana usaha dan hasil masih punya hubungan yang cukup masuk akal.
Sekarang, bangun pagi sering kali dimulai dengan menatap langit-langit kamar lebih lama dari yang seharusnya. Ada jeda kecil sebelum benar-benar sadar bahwa hari harus dimulai lagi. Kadang belum juga membuka laptop, kepala sudah lebih dulu lelah membayangkan orang-orang yang harus dihadapi, percakapan-percakapan yang melelahkan, atau drama kecil yang sebenarnya tidak penting tetapi entah kenapa selalu menguras energi paling banyak. Dan lucunya, pekerjaan itu sendiri sering kali bukan bagian yang paling berat. Yang melelahkan justru ekosistem di sekitarnya.
Sekolah, khususnya pelajaran PPKn, mengajarkan kita tentang kerja sama, tentang musyawarah untuk mufakat, tentang pentingnya mendahulukan kepentingan bersama. Tapi dunia kerja memperlihatkan versi yang jauh lebih rumit dari itu. Di sini, keputusan jarang benar-benar dibuat demi kebaikan semua orang. Kepentingan adalah mata uang utama dalam hampir setiap interaksi. Orang mendukung ide bukan karena ide itu baik, tetapi karena siapa yang mengusulkannya. Pendapat menjadi valid ketika keluar dari mulut orang yang punya jabatan lebih tinggi. Bahkan hal-hal yang secara moral terlihat salah pun bisa berubah menjadi “masuk akal” selama menguntungkan pihak tertentu.
Aku mulai sadar kalau banyak nilai yang diajarkan sekolah sebenarnya bekerja dengan asumsi bahwa semua orang punya niat baik. Padahal kenyataannya tidak begitu. Dunia kerja dipenuhi orang-orang yang sangat pandai terlihat kompeten tanpa benar-benar bekerja, dan ironisnya, kemampuan semacam itu sering lebih dihargai daripada kerja keras yang sesungguhnya. Ada orang yang pekerjaannya paling sedikit tetapi suaranya paling besar. Ada yang kontribusinya biasa saja, tetapi karena pandai membangun citra, ia selalu terlihat paling berjasa. Sementara orang-orang yang benar-benar menopang pekerjaan sehari-hari justru sibuk membereskan kekacauan diam-diam tanpa pernah mendapat ruang untuk terlihat.
Mungkin itu sebabnya menjadi idealis terasa sangat melelahkan ketika sudah masuk dunia kerja. Bukan karena idealisme itu salah, tetapi karena sistemnya sering kali tidak memberi ruang untuk orang yang terlalu lurus. Di tengah ekonomi yang makin sulit, banyak orang akhirnya belajar menyesuaikan diri dengan cara yang paling aman untuk bertahan. Menjilat atasan dianggap kemampuan sosial. Mengorbankan prinsip dianggap bentuk profesionalisme. Bahkan diam saat melihat sesuatu yang salah sering dipilih karena dianggap lebih realistis daripada mengambil risiko kehilangan posisi.
Dan aku tidak sepenuhnya bisa menyalahkan mereka. Dunia kerja punya cara aneh untuk membuat orang perlahan mengubah standar moralnya sendiri. Awalnya mungkin hanya menoleransi hal kecil. Lama-lama terbiasa. Setelah itu ikut melakukannya. Semua dibungkus dengan alasan yang terdengar dewasa: kebutuhan hidup, cicilan, keluarga, karier, masa depan. Sampai pada titik tertentu, orang tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar atau salah, tetapi apakah itu aman dilakukan.
Yang juga tidak diajarkan sekolah adalah kenyataan bahwa tekanan selalu mengalir ke bawah. Orang yang berada di posisi paling tinggi hampir selalu punya ruang lebih besar untuk melakukan kesalahan, sementara yang di bawah harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk dianggap cukup. Ada budaya diam-diam yang mengharuskan bawahan menerima banyak hal tanpa banyak bertanya. Semakin rendah posisi seseorang, semakin kecil haknya untuk terlihat lelah. Semua orang diminta profesional, tetapi profesionalisme sering kali hanya dituntut dari mereka yang tidak punya kuasa.
Kadang aku berpikir, mungkin dulu kita tidak perlu terlalu banyak belajar tentang gotong royong dalam bentuk yang ideal. Karena pada akhirnya, tidak semua orang benar-benar ingin bergotong royong. Harusnya sekolah juga mengajarkan apa yang harus dilakukan ketika kerja kelompok ditinggal sendirian. Ketika hasil kerja kita dipakai orang lain untuk terlihat hebat. Ketika kita harus memilih antara mempertahankan prinsip atau menyesuaikan diri supaya tetap punya tempat. Harusnya ada pelajaran tentang bagaimana cara menghadapi orang manipulatif, cara menjaga diri di lingkungan yang kompetitif, atau cara menerima bahwa tidak semua usaha akan dihargai secara adil.
Sebab setelah bekerja, aku mulai mengerti bahwa menjadi dewasa bukan tentang akhirnya menemukan jawaban atas hidup. Menjadi dewasa ternyata lebih mirip proses kehilangan banyak ilusi secara perlahan. Tentang menyadari bahwa sistem tidak selalu berpihak pada orang yang bekerja paling keras. Tentang memahami kalau kompetensi dan penghargaan sering berjalan di jalur yang berbeda. Dan tentang menerima bahwa kadang-kadang, bertahan sampai akhir hari saja sudah merupakan pencapaian yang cukup besar.
Mungkin kalau dulu sekolah mengajarkan lebih banyak tentang cara survive daripada sekadar cara berhasil, transisi menuju dunia kerja tidak akan terasa terlalu mengejutkan. Atau mungkin tetap akan menyakitkan. Hanya saja setidaknya kita datang dengan ekspektasi yang lebih realistis, dan tidak terlalu bingung ketika akhirnya sadar bahwa dunia orang dewasa ternyata dibangun bukan hanya oleh kerja keras, tetapi juga oleh ego, kepentingan, hierarki, dan kemampuan untuk terus bertahan meski perlahan lelah sendiri.
Terima kasih sudah datang dan membaca, semoga hidup senantiasa memberimu kejutan yang baik.
-Nicahae
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


